Jalan Ini Bukan Milik Mbahmu, Bung!

*Disclaimer : Tulisan ini bukan bermaksud untuk mencela pengendara motor tipe tertentu, melainkan memberi fakta yang terjadi di lapangan. Tetapi kalau yang bersangkutan merasa tersinggung atas celaan saya, berarti sudah saatnya introspeksi.

Memikirkan tentang keruwetan lalu lintas di Jakarta itu memang tiada habisnya. Macet, kecelakaan, perang mulut sampe adu jotos itu sudah jadi rutinitas sehari-hari. Saya sendiri sudah mengalami beberapa kejadian yang membuat emosi jadi tinggi. Iya, ini tentang pengendara lain yang ngawur dan tidak pake otak. Mayoritas pengendara yang membuat saya emosi itu pengendara motor matic[1], dalam hal ini khusunya pengendara matic yang laki-laki. Kenapa saya bilang begitu? coba anda lihat pengendara motor di jalan yang suka selap selip nyerobot seenaknya sendiri sambil klakson-klakson ga jelas, mayoritas adalah matic. Kalau hujan, air pasti nyiprat sampe ke kaca helm pengendara di belakangnya karena sepatbor yang tidak menutup ban dengan sempurna. Mereka bertindak seolah-olah jalanan Jakarta ini milik eyang nya.

Baru saja kemarin sore waktu pulang kerja, saya jadi target kemarahan dan kedzaliman pengendara matic untuk yang kesekian kalinya. Rute saya pulang kerja adalah Jalan panjang – Kebayoran – Pondok Indah – Tanah Kusir. Waktu itu saya melewati depan masjid Pondok Indah mau muter ke arah tanah kusir, seperti biasa kondisi jalan macet. Saya ada di belakang mobil, samping saya juga mobil jadi posisi saya hampir terjepit. Mau menerobos juga susah karena celah tidak cukup untuk dilewati. Nah, dibelakang saya ada bapak-bapak yang -kebetulan nih- pengendara matic mengklakson berkali-kali. Padahal kondisi tidak memungkinkan untuk menerobos, tapi tetap saja dia klakson. Awalnya sih saya cuekin saja, tetapi kok lama-lama jadi kesal juga. Karena kesal, saya mainkan gas juga berkali-kali. Merasa tersinggung, bapak yang tidak tahu malu itu neriakin saya dengan nama-nama hewan di kebun binatang sambil berusaha mengejar. Ah masa bodoh, saya gas kencang juga dong motor saya sambil liatin kaca spion kepada si pengendara matic itu. Setelah beberapa ratus meter saya lihat ke belakang ternyata orang gila itu sudah tidak ada. Lha iya, motor saya kalau cuma balapan sama matic mah ayo aja wahihi :D.

Kejadian lainnya sudah 3 tahun lalu, waktu itu kondisi jalan basah karena baru reda hujannya dan lalu lintas juga macet. Dari arah kanan, saya ingin berpindah jalur ke kiri yang harus melewati celah diantara dua mobil depan dan belakang. Saya sudah pelan, menghidupkan lampu sign kiri, dan melihat ke belakang untuk antisipasi ditabrak pengendara motor lain, ban depan saya juga sudah masuk di jalur kiri. Nah, entah kenapa dari belakang ada pengendara -yang kebetulan- motor matic melaju agak kencang, akhirnya dia ngerem mendadak untuk menghindari tabrakan dengan bagian belakang motor saya. Karena pengereman yang mendadak itu, ban depannya jadi selip dan terjatuh. Saya sempat lihat di kaca spion, akhirnya dia bisa langsung bangun dan mengejar saya sambil teriak-teriak. Saya cuekin saja, karena saya tidak merasa bersalah dan sudah berhati-hati pindah jalurnya. Pengendara yang mengejar saya itu sepertinya kesulitan, karena selain saya ngebut jalannya juga zig zag diantara motor dan mobil lain. Akhirnya ya sudah, orang gila pengendara matic itu tidak bisa mengejar saya. Maklum, dulu waktu masih SMP obsesi saya jadi pembalap :))

Heran, sebenarnya saya kurang patuh apa coba? Saya sudah mengendarai motor sesuai prosedur, istilah otomotifnya safety riding gitu lah, tapi kok ya tetap saja dimusuhin sama pengendara lain. Saya juga rajin bayar pajak untuk membangun infrastruktur jalan[2], meskipun pajaknya juga dikorupsi sama oknum lainnya. Oh iya, apa mungkin karena plat nomor motor saya yang dari daerah ya, jadi pada disepelekan gitu? Saya dari daerah ke Jakarta itu untuk mengabdi kepada negara, membangun negeri, bukan untuk cari musuh! Pokoknya saya tidak rela hak-hak saya sebagai pengguna jalan dirampas begitu saja.

Merdeka!

———————————
[1] Mayoritas, berarti tidak semua pengendara matic.
[2] Kalau pajaknya tidak dibayarin perusahaan, saya juga tidak mau bayar  pajak. Karena yang wajib itu bayar zakat, bukan pajak.

Advertisements
About

I'm not a geek, nor a techie

Posted in Daily

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: